Monday, 7 September 2015

Terminal Bayangan Lebih Diminati

PARKIR LIAR: Angkot-angkot ini parkir
sembarangan menunggu bubaran anak sekolah.
Sudah saatnya Karawang memiliki terminal bis yang sangat refresentatif. Minimal terminal bis tipe A. Selain terminal, juga stasiun kereta api Karawang yang harus dikembangkan menjadi stasiun kereta api tipe A. Hal itu tidak bisa ditawar, terlebih jika mencermati tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin mendekati prilaku kehidupan masyarakat kota besar.

Hal itu diungkapkan pemerhati masalah lalulintas, Tejar Rubiyanto, melalui surat elektroniknya, beberapa waktu lalu. Dia menilai selama ini terminal yang ada di Karawang belum dikelola secara optimal. Padahal kebutuhan efektifitas transportasinya yang semakin tinggi. Tentu saja inipun menuntut kualitas layanan yang optimal pula. "Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akan transportasi mestinya dibarengi dengan sarana dan prasarana yang memadai," ungkapnya.

Selain itu, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah banyaknya masyarakat Karawang yang bekerja pulang pergi dari dan keluar Karawang. Hal-hal seperti ini yang patut menjadi bahan pertimbangan perlunya sarana dan prasana transportasi yang memadai di Karawang. Paling tidak sarana transportasi yang mampu memberi kenyamanan bagi masyarakat.

Hal senada diungkapkan Aliya Setia Budi, ironis, menurut dia jika kota sebesar Karawang yang digadang-gadangkan akan menjadi ibu kotanya Indonesia tidak memiliki terminal presentatif. Itu contoh terkecil saja dari kualitas sebuah pemerintahan. Bayangkan jika bandara dan pelabuhan juga digadangkan akan dibangun di Karawang nanti terealisasi, entah bagaimana Karawang ini. "Buat terminal saja tidak mampu bagaimana mau menjadi ibu kota," katanya.

Lebih ironis lagi jika menyaksikan realita di lapangan, ternyata angkot-angkot yang beroperasi malah lebih banyak berada di terminal bayangan ketimbang terminal yang ada. Ini membuktikan sistem transportasi di Karawang belum  berlangsung secara optimal. Untuk itu hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana membuat disiplin sopir angkutan. Buat para sopir agar memahami bahwa ngetem sembarangan itu mengganggu ketertiban lalu lintas yang bisa mengakibatkan kemacetan. Selain itu disiplin petugas dilapangan juga penting. Kalau petugasnya tegas tidak akan ada sopir angkutan umum yang ngetem sembarang. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 17:58

Friday, 4 September 2015

BPJS Diminta Tingkatkan Kerjasama Rumah Sakit

BPJS Diminta Tingkatkan Kerjasama Rumah Sakit
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diminta agar meningkatkan pelayanannnya terhadap masyarakat Kabupaten Karawang, terutama kerjasama dengan pihak rumah sakit yang dinilai masih kurang. Hingga saat ini masih banyak warga yang belum terbackup pelayanan BPJS meski sudah tercatat sebagai pemegang kartu BPJS.

"BPJS harus memeratakan pelayanannya di setiap wilayah di Kabupaten Karawang. Masih banyak masyarakat di wilayah pesisir dan pelosok yang terpaksa berobat ke RS yang jauh dari tempat tinggalnya akibat rumah sakit di wilayah pesisir dan pelosok belum bekerja sama dengan BPJS," ucap anggota Komisi D, Asep Syaefudin, Kamis (3/9).

Peningkatkan pelayanan, terutama kerjasama dengan pihak Rumah Sakit pun, dikatakan Asep perlu ditingkatkan karena banyak rumah sakit yang tidak kerjasama dengan pihak BPJS, infonya pihak BPJS kekurangan verifikator," ujar Asep.

Desakan itu muncul karena di wilayah timur Kabupaten Karawang khususnya Kecamatan Cilamaya, warga masih kesulitan memanfaatkan program jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan. Rumah sakit yang berada di wilayah tersebut, RS Puri Asih belum menjadi mitra dari BPJS Kesehatan. Akibatnya, masyarakat sekitar harus menuju rumah sakit yang lokasinya jauh dari tempat tinggal mereka. Masyarakat yang dekat dengan RS Puri Asih, terpaksa harus ke RS Karya Husada yang berada di Cikampek. "Saya harus ke RS Karya Husada yang lokasinya jauh dari tempat tinggal saya di Cilamaya, RS Puri Asih yang dekat dengan tempat tinggal saya katanya belum bekerja sama dengan pihak BPJS, jadi kalau saya harus memanfaatkan program BPJS, saya harus jauh ke RS Karya Husada," kata  warga Cilamaya Rudi.

Rudi bercerita, saat dirinya hendak memeriksakan diri di RS Puri Asih dengan menggunakan BPJS kesehatan, dia ditolak karena RS Puri Asih beralasan program BPJS belum bisa digunakan di RS Puri Asih. "Awalnya saya marah dengan RS Puri Asih, tapi pihak RS Puri Asih beralasan kalau pihak RS sudah melakukan upaya kerjasama. Namun upaya itu belum direalisasikan oleh pihak BPJS-nya," tuturnya.

Ia berharap BPJS kesehatan untuk segera merealisasikan kerjasama seluruh rumah sakit. Agar masyarakat Cilamaya bisa memanfaatkan program BPJS tanpa harus jauh-jauh ke RS di luar Kecamatan Cilamaya. "Saya berharap RS Puri Asih dan BPJS bisa mementingkan masyarakat, khususnya masyarakat Cilamaya dan sekitarnya," utasnya.

Sementara, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Karawang, Sri Rahayu Agustina mendesak pihak BPJS Kesehatan untuk segera merealisasikan kerjasama dengan seluruh rumah sakit. Karena, kata Sri, ketika BPJS booming dan di sosialisasikan ke masyarakat seharusnya pihak BPJS juga harus sudah siap. "Apalagi kendalanya ada di pihak BPJS kan aneh. Kalau memang pihak RS Puri Asih sudah membuat MoU, harusnya pihak BPJS sudah tidak ada alasan lagi, apalagi urusan teknis. Jadi saya harap ketika pemerintah menggalakan BPJS maka pihak BPJS harus siap untuk bekerja sama dengan pihak RS. Pemerintah pusat harus mengevaluasi BPJS,"tandasnya. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 20:21

Polwan-Polwan Cantik di Polres Karawang (3)

Bripda Bella Khaerani Septiani
Punya Trik Khusus Paksa Pelaku Akui Perbuatannya

UCAPAN sang ayah yang memintanya agar menjadi pemimpin meski dirinya seorang wanita sampai sekarang masih terpatri kuat dalam benaknya. Kalimat sang ayah itu selama ini diakuinya menjadi penyemangat dalam setiap tindakan terkait pekerjaannya.

"Kata - kata Ayah sangat nempel di hati saya. Dulu kan Ayah Sekcam, katanya, kamu jangan mau jadi bawahan, ditekan dan disalahin melulu. Harus jadi seorang pemimpin meskipun wanita," tutur Bripda Bella Khaerani Septiani, polwan yang saat ini bertugas di Satuan Narkoba Polres Karawang.

Bagi dara kelahiran Bandung, 6 September 1996 lalu ini, menjadi pemimpin dan panutan sebenarnya bukan hal asing lagi. Pasalnya, di lingkungan keluarga ia selalu menjaga wibawanya agar menjadi sosok yang disegani, dihargai, sekaligus menjadi panutan bagi ketiga adiknya. "Saya anak sulung dari empat bersaudara. Saya harius jadi contoh baik buat ketiga adik saya sebelum nanti menjadi pemimpin di lingkungan masyarakat," ungkapnya.

Selama bertugas sebagai penyidik di Satnarkoba Polres Karawang selama 8 bulan terakhir, diakuinya berbagai pengalaman pahit dan manis mulai dirasakan. Ia menuturkan, hal paling mengesankan menjadi seorang penyidik Satnarkoba, adalah ketika berkas penyidikan tersangka yang terjerat kasus narkoba, diterima pihak kejaksaan atau P21. " Kepuasan sebagai penyidik ya itu kalau berkas P21 dan tersangka disidangkan," ulasnya.

Namun, ada pula hal yang kerap membuatnya stress selalu penyidik. Dikatakannya, saat batas waktu proses penyidikan tinggal sedikit, ditambah saat berkas baru p18 dan P19 serta harus bolak balik ke kejaksaan untuk melakukan perbaikan membuat hal sering kebingungan. Namun, lambat laun hal itu jarang terjadi , berkat bimbingan para seniornya di jajaran Satnarkoba. "Kalau menghadapi tersangka dalam penyidikan gak terlalu mengalami kendala buat saya," ungkapnya pede.

Bella punya trik tersendiri dalam menghadapi tersangka agar mau jujur dan terbuka saat proses penydikan berlangsung. Disamping tugasnya sebagai penyidik, tak jarang ia pun diperintahkan atasannya untuk turun melakukan penangkapan bersama jajaran Opsnal. Pernah, ada hal yang tidak pernah dapat ia lupakan selama ditugaskan ke lapangan. Saat itu, lanjut Bella, ia ditugaskan mendampingi tim Buser Satnarkoba melakukan penangkapan seorang wanita pengedar narkoba. “Dalam bayangan saya, ini wanita udah pasti tante –tante atau wanita gaul yang modis dan kekinian karena doyan narkoba,” ulasnya.

Namun, apa yang dia bayangkan tak sesuai dengan apa yang ditemuinya di lapangan. Ketika jajaran satnarkoba menggerebek pelaku yang juga masuk daftar Target Operasi (TO), ia dikejutkan dengan temuan yang diluar dugaan. “Saya kaget ternyata pas ditangkap, pelakunya adalah serang nenek-nenek. Sangat jauh dari apa yang saya bayangkan. Gilanya lagi, saat di tes urin, kandungan kimia berbagai macam narkoba ada di urin nenek itu,”katanya, seraya terbahak.

Bagi Bella, mendapat perintah tugas di satuan manapun bukanlah suatu masalah besar. Ia merasa masih muda dan perlu banyak mengenyam pengalaman dari para seniornya di Polres Karawang. Bertugas sebagai penyidik, reserse, maupun lalu lintas, semua dapat ia jabani dengan semangat dan sebaik-baiknya. “Insyallah tugas di satuan manapun saya siap. Dipindah-pindah satuan juga tak apa-apa, justru saya merasa hal itu pengalaman berharga. Ilmu kepolisian masih harus saya pelajari dan kuasai lebih jauh, karena saya masih termasuk Polwan junior,” ucapnya bijak. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 20:21

Lolos dari Perampok Tewas di Tol

GAGAN (32) warga Desa Sukawarga, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tewas mengenaskan akibat tertabrak kendaraan tak dikenal saat berusaha lari dari aksi perampokan yang menimpanya di Tol Cikampek-Jakarta KM 66.200, Kamis (9/3) dinihari.

Jenazah sopir truk colt Diesel bernopol Z 9219 DC ditemukan oleh anggota PJR Karawang dalam keadaan luka parah di bagian kepala tak jauh dari lokasi saat ia dirampok. Jenasah langsung dievakuasi ke RSUD Karawang. Loon (62) kernet truk yang selamat dari aksi perampokan, mengatakan, peristiwa itu berawal saat truk yang dikendarainya melaju dari arah Bandung menuju Jakarta berhenti di bahu jalan dan bermaksud hendak buang air kecil. Saat mereka berhenti, tiba-tiba datang sekitar lima orang dari semak-semak dan langsung menodong keduanya menggunakan senjata tajam (sajam). “Saya disuruh tiarap di kolong mobil, dan saya tidak tahu nasib sopir saya,” kata Lolon.

Setelah itu sejumlah pelaku langsung masuk mobil dan memeriksa barang bawaan yang ada di dalam mobil. Setelah beberapa saat para pelaku tadi melarikan diri kembali masuk ke semak-semak dengan membawa uang. Ketika para pelaku sudah pergi, Loon mencari keberadaan sopirnya. Ditunggu beberapa lama juga tak muncul. Namun beberapa saat kemudian anggota memberitahukan bahwa ada penemuan sesosok mayat dengan luka-luka di kepala berada di sekitar 500 meter dari lokasi perampokan. Setelah diteliti, ternyata jenasah Gagan.

Menurut Lolon, saat ia disekap ia melihat Gagan lari meninggalkan truk yang tengah mengangkut kentang itu. Gagan lari kearah ruas jalan tol yang gelap. Kasat Reskrim Polres Karawang AKP Doni Satria Wicaksono yang dikonfirmasi mengatakan, saat ini kasus terkait dugaan pencurian dengan kekerasan sudah ditangani aparat Polres Karawang. Namun untuk mengetahuinya secara jelas, pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap kondektur yang selamat. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 20:17

Thursday, 3 September 2015

Pengelolaan SMA/SMK Oleh Propinsi Diundur 2017

Nandang Mulyana
Pengalihan pengelolaan SMA/SMK dikelola Pemerintah Provinsi (Pemprop) diundur ke tahun 2017. Padahal sebelumnya Propinsi Jawa Barat merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang pertama akan memberlakukan peraturan tersebut pada tahun 2016 mendatang. Namun, karena tidak semua propinsi siap, akhirnya pengelolaan SMA/SMK oleh pemerintah provinsi akhirnya diundur hingga tahun 2017 mendatang.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang, Drs Nandang Mulyana mengaku akan mengikuti instruksi yang ada. Meski begitu, pengalihan pengelolaan SMA dan SMK ke provinsi,  kata dia, tetap akan di lakukan pada saatnya nanti. “Khusus untuk Kabupaten Karawang, semua data yang dibutuhkan oleh Provinsi Jawa Barat baik itu data jumlah siswa, jumlah sekolah, dan yang lainnya sudah kita serahkan. Tapi ada beberapa yang masih dalam tahap penyelesaian,” ujar Nandang di ruang kerjanya Rabu (2/9).

Disinggung mengenai bantuan yang selama ini diberikan oleh Pemkab Karawang yaitu berupa Bantuan Operasional Pendidikan Fasilitas (BOPF) kepada SMA/SMK, Nandang menegaskan BOPF tetap akan ada meski SMA/SMK dikelola oleh provinsi. Karena menurutnya, itu merupakan perhatian dan kewajiban pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Karawang. “Untuk dana BOPF tetap ada, meski pengelolaan SMA/SMK diambil alih provinsi. Bidang Pendidikan Menengah juga akan tetap ada dan tidak di hilangkan. Tetapi fungsinya akan sedikit berubah saja,” ungkapnya.

Di tempat berbeda, kepala SMAN 4 Karawang, Drs H. Yuhana M menambahkan, bahwa siapapun yang akan mengelola SMA dan SMK kedepan tetunya akan diterima dengan baik dan akan dijalankan semaksimal mungkin. Karena pihak sekolah hanya sebagai pelaksana teknis dilapangan. “Pengelolalan SMA/SMK oleh provinsi tidak jadi pada 2016 itu tidak masalah bagi saya, mau kapan pun dan siapa pun yang penting bisa lebih baik. Karena saya hanya berharap dunia pendidikan bisa semakin maju dan lebih baik dari sebelumnya,” ujar Yuhana. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 19:32

Polwan-Polwan Cantik di Polres Karawang (2)

Bripda Annisa Kurniasih
Primadona yang Jadi Penyemangat Satuan Sabhara

POLWAN satu ini jadi primadona disatuannya. Dia juga menjadi penyemangat bagi teman-temannya yang kebanyakan lelaki. Bripda Annisa Kurniasih ngaran Polwan ini. Parasnya yang cantik, imut dan ramah, membuat teman-temannya tak mau kelihatan lelah dan loyo dihadapan dara kelahiran Karawang 6 Maret 1996 ini. Mereka malu jika dibilang kalah gagah dengan Polwan cantik ini.

Kehadiran  polisi wanita di lingkungan Polri kerap membawa suasana berbeda, terlebih mereka memiliki paras yang terbilang rupawan.  Dari 30 Polwan remaja, tentunya ada beberapa yang terlihat berbeda jika dilihat dari penampilan  ditambah parasnya yang terbilang cantik. Mereka ini menjadi primadona di satuan fungsi masing-masing.

Bripda Annisa Kurniasih yang bertugas di Satuan Sabhara, misalnya, sering menjadi penyemangat bagi teman-temannya yang kebanyakan laki-laki.

Putri pasangan  Abdul Mutholib dan Rodiyati ini memang memiliki mobiltas yang tinggi. Ia sering terlihat patroli di jalan-jalan raya serta menyapa warga secara elegan. Mantan model semasa sekolah di SMA 5 Karawang ini tak takut kulitnya menjadi gosong  dengan berpanas-panasan di jalan raya yang berdebu ini.  Itulah yang membuat teman-teman laki-lakinya salut kepadanya. “Tekad saya memang ingin menjadi polwan sejak masih sekolah, sehingga tidak menghiraukan lagi kulit saya menjadi gosong atau tidak,” ucap gadis berdarah Sunda-Padang ini.

Anissa mengaku  sebenarnya waktu kecil memiliki cita-cita menjadi dokter agar bisa membantu banyak orang. Tapi menjelang lulus SMA, ternyata keinginan menjadi Polwan lebih besar. Bagi dia, dua profesi itu sama-sama mulia karena membantu banyak orang. Oleh karena itu, ia tidak pernah menyesal gagal menjadi dokter. Sosok Ayah, yang pensiunan Dinas Binamarga, mendukung langkah yang ditempuh Annisa termasuk ketika ia menyatakan diri mendaftar sebagai anggota Polwan. Dukungan ini membuat gadis yang pernah terjun di dunia intertaiment dan pernah sebagai atlet  olahraga Anggar ini bertambah semangat menjalankan tugas-tugasnya sebagai penegak hukum.

Sebagai manusia biasa, ia mengaku sering juga menemukan kejenuhan dengan tugas rutinnya tersebut. Jika sudah demikian, ia harus melakukan sesuatu agar kejenuhan itu hilang dan kembali fokus pada tugasnya semula sebagai Polwan. Dan ia berharap ada rolling tugas di Satlantas sehingga kejenuhan itu tidak melekat di hati dan pikirannya. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 19:31

Rumah Kontrakan Dibobol Maling

Illustrasi
RUMAH kontrakan milik karyawan PT JVC yang berada di Dusun Lamaran RT 01/04 Kelurahan Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur, Rabu (2/9) dibobol maling. Sejumlah barang berharga termasuk empat dompet berisi total Rp 1 juta raib. Kasus ini telah ditangani pihak Polres Karawang.

Korban pemilik kontrakan Fikih Nurhikmah (23) mengatakan, peristiwa pembobolan baru diketahui sekitar pukul 01.00 WI, saat ia bersama satu teman kontrakannya pulang bekerja Shif 2. Ia melihat jendela sudah terbuka lebar dan ketika masuk lampu sudah dalam keadaan menyala. “Setelah diteliti lagi, ternyata barang-barang sudah hilang termasuk dompet yang ada di dalam lemari," kata Fikih.

Barang-barang yang raib digondol maling antara lain satu televisi LID 21 inchi, satu DVD, satu unit Hp Samsung Android, satu buah helm INK warna Pink, dan rmpat buah dompet yang disimpan di dalam lemari beserta uang Rp 1 juta dan sejumlah surat lainnya di dalam dompet juga ikut raib dibawa pelakunya. Fikih menyebutkan dari hasil olah TKP, polisi menduga para pelakunya masuk melalui jendrla depan yang dicongkel. Dugaan ini didasarkan kondisi jendela yang jebol dan ada bekas congkelan.

Nurdin warga sekitar menambahkan, peristiwa pembobolan rumah kontrakan yang terjadi di lokasi tersebut sudah yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebelumnya juga sudah terjadi peristiwa yang sama. "Disini sudah sering terjadi, dulu motor ilang terus rumah dibobol laptop dan Hp juga uang hilang, dan ini yang terakhir kembali terjadi dan korbannya pemilik kontrakan yang ada di nomor 2," ujarnya.

Seringnya terjadi pembobolan, menurut Nurdin  karena minimnya pengamanan serta lokasi yang berdekatan dengan jalan raya. Para penjahat seakan leluasa masuk ke lokasi tersebut, apalagi kondisi lingkungannya sangat terbuka, tidak ada pintu gerbang. "Disini memang sepi apalagi malam, kalau karyawan penghuni kontrakan bekerja ya lebih sepi lagi. Ya harusnya sih pemilik kontrakan harus bisa  mempasilitasi keamanan paling tidak memasang kamera cctv dan pintu gerbang serta keamanan RT disekitar juga perlu, jadi jangan hanya uang rondanya saja yang diambil tapi keamanan tidak terjamin," jelasnya. Peristiwa ini sudah ditangani aparat dari Polres Karawang. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 19:30

Pencuri Motor Beraksi di Perum CKM

Illustrasi
TARMI (40) warga Perum Citra Kebun Mas B6 17, Desa Bengle, Kecamatan Majalaya kehilangan sepeda motor Yamaha vixion T 3660 LU miliknya yang tengah diparkir di garasi belakang rumahnya sendiri. Bagaimana peristiwa itu terjadi, hingga kemarin dia hanya menduga motor miliknya tersebut dicuri orang.

Peristiwa hilangnya motor tersebut diketahuinya saat bangun tidur hendak sholat subuh pukul 04.00 wib, Rabu (2/9). Ia kemudian melihat sekelilingnya dan menemukan gerbang belakang sudah dalam keadaan terbuka. “Saya tidak mendengar ada suara pintu gerbang terbuka. Namun menurut tetangga, sekitar pukul 02.00 wib mendengar seseorang yang sedang membuka gerbang dan lalu bunyi suara motor,” ujarnya saat melapor di Polres Karawang.

Tarmi menuturkan, saat hendak tidur setelah pulang kerja pukul 20.00 wib, ia langsung memarkirkan motornya di garasi belakang rumah, dan kemudian mengunci pintu gerbang dengan gembok. Mengutip keterangan polisi yang melakukan olah TKP, Tarmi menyebutkan gembok pintu gerbang dibongkar paksa dan kemudian membuka kunci motor dengan kunci leter T. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 19:29

Wednesday, 2 September 2015

30 Persen Bangunan SD di Karawang Timur Rusak Parah

30 Persen Bangunan SD
di Karawang Timur Rusak Parah
Selain di Kecamatan Kota Baru dan beberapa kecamatan lain di wilayah pesisiran, kekurangan ruang kelas baru (RKB) dan bangunan sekolah rusak, ternyata terjadi pula di perkotaan. Salah satunya terjadi di wilayah UPTD PAUD SD Kecamatan Karawang Timur.

Di Kecamatan yang lokasinya tak jauh dengan pusat pemerintahan Kabupaten Karawang ini ternyata masih banyak yang membutuhkan Ruang Kelas Baru (RKB). Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Unit Pembantu Teknis Dinas (UPTD) PAUD SD Kecamatan Karawang Timur, Drs. H. Yayat Supriyatna, Selasa (1/9).

Yayat menjelaskan, sekolah yang membutuhkan RKB diantaranya SDN Kondang Jaya 3, SDN Karawang Wetang 1, 3, dan 5, SDN Palumbon 1, 2 dan 3. Dari sekian banyak sekolah yang membutuhkan RKB tersebut, seluruhnya terkendala oleh lahan yang tidak ada. “Kurang lebih 25 RKB yang kami butuhkan, tetapi hampir semua sekolah yang membutuhkan RKB terkendala lahan, jadi saat ini masih belum dapat bantuan RKB,” ujar Yayat.

Sementara itu, ia selaku pucuk pimpinan dunia pendidikan di Kecamatan Karawang Timur mengaku telah mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dan dinas terkait yang memang mengurus tentang pembangunan Infrastruktur. Diakuinya juga bahwa ada beberapa sekolah yang sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah ataupun dari pemerintah propinsi. “Jadi selain melayangkan permohonan bantuan ke pemerintah daerah, kami juga memohon bantuan ke pemerintah propinsi serta pusat. Semoga saja ada realisasi dari pengajuan yang kami layangkan. Karena untuk kepentingan dunia pendidikan,” tuturnya.

Selain membutuhkan RKB, menurut Yayat, tidak sedikit  kondisi bangunan SD di Kecamatan Karawang Timur rata-rata mengalami kerusakan cukup parah. Namun kata dia, pihak sekolah terpaksa tetap menggunakan sekolah rusak untuk kegiatan belajar mengajar. “Kondisinya 30 persen bangunan SD di Karawang Timur rusak," kata Yayat dan menambahkan kondisi bangunan sekolah tersebut butuh segera perbaikan.

Yayat berharap, pemerintah Kabupaten Karawang bisa lebih memperhatikan fasilitas Infrastruktur sarana dan prasarana pendidikan. Karena saat ini masih banyak bangunan sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan untuk sekolah-sekolah yang letaknya di wilayah perkotaan sekalipun. “Kami selalu berharap dunia pendidikan bisa semakin baik demikianpun infrastrukturnya,” pungkasnya. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 01:50

Di Karawang Ratusan Karyawan Sudah Dirumahkan

Il;lustrasi Uang Rupiah
Tiga perusahaan yang beroperasi di Karawang terancam bangkrut sebagai imbas lemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika. Sedikitnya 350 karyawan yang bekerja di tiga perusahaan tersebut sudah dirumahkan sejak beberapa pekan terakhir ini.

Peusahaan yang terancam bangkrut tersebut adalah PT.Siongbo, PT. Karawang Utama tekstil, PT.Anton teks yang masing-masing memproduksi garmen, tekstil dan kulit. Pemerintah setempat tengah mencari upaya agar karyawan yang dirumahkan tersebut tidak diputus hubungan kerja atau PHK.  

Kepala Dinas Tenaga Kerja Karawang, Ahmad Suroto menyebutkan, kalangan industri tekstil di sektor tiga ini yang paling pertama terkena dampak kenaikan dolar Amerika. Industri mengeluhkan biaya tinggi karena pembelian bahan baku dalam bentuk dolar AS. Sementara pendapatannya dalam mata uang rupiah. “Harus diakui, ekonomi melemah. Daya beli masyarakat turun drastis, rupiah juga melemah. Akibatnya perusahaan harus mengurangi produksi. Yang berarti harus merumahkan karyawannya,” ujar Suroto.

Saat ini, kata Suroto, sejumlah perusahaan lain juga telah mengurangi kapasitas produksi serta jam kerja pegawai sejak sebulan lalu. Menurut Suroto pihaknya masih melakukan mapping terhadap perusahaan yang terancam bangkrut. "Paling tidak kita mendampingi perusahaan kalaupun terpaksa harus PHK jangan sampai terjadi gejolak dengan Karawang," katanya.

Suroto menambahkan, masalah PHK saat ini merupakan masalah nasional. Pemkab Karawang hanya bisa mengantisipasi kemungkinan terjadi sengketa antara manajemen dengan karyawan. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 01:49

Polwan-Polwan Cantik di Polres Karawang (1)

Bripda Suci Karnita Sari
Dihampiri Pengendara Motor dan Minta Ditilang

KIPRAH perempuan sering tak terdengar. Padahal dibalik sosok yang lemah lembutnya ini, mereka inilah yang menjadi fondasi yang memperkuat tiang-tiang pancang sebuah tatanan, baik pemerintah, militer apalagi keluarga. Nah, dijajaran kepolisian mereka ini dikenal dengan sebutan polisi wanita. Bagaimana kiprah mereka dibalik seragam coklat yang melekat ditubuh mereka, inilah hasil wawancara kepada mereka yang bertugas di jajaran Polres Karawang.

Namanya Bripda Suci Karnita Sari, anggota Polwan Unit Lalu Lintas Polsek Klari. Sepintas sosok gadis manis nan ceria ini terlihat sangat judes. Namun, ketika berbincang dengannya, kesan tersebut akan sirna dan yang tampak malah pribadi yang ramah, menyenangkan dan terbuka. Suci pun tak ragu mengungkapkan, memilih berprofesi sebagai polwan karena punya cita-cita dan harapan tersendiri. Secara terbuka ia mengungkapkan niatnya mendaftar Polwan, karena  ingin menjunjung tinggi nama baik keluarganya, supaya tak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Ia meyakini profesi sebagai aparat Kepolisian dipandang  masyarakat sebagai sosok panutan dan figur yang patut diteladani. "Orangtua saya hanya penjual kerupuk, ibu saya buruh pabrik. Jadi saya mantapkan diri daftar Polwan setelah lulus SMA, agar orang lain tak memandang rendah keluarga saya," kata Suci.

Tugas sebagai anggota polisi  lalu lintas baginya merupakan pengalaman yang istimewa dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pasalnya, tidak ada di lingkungan keluarganya yang berprofesi sama seperti dirinya. "Saudara dan keluarga saya tidak ada yang jadi Polisi. Hanya saya saja yang jadi Polisi," ucapnya seraya menebar senyum.

Berbagai pengalaman mulai yang menyebalkan hingga menyenangkan ia alami selama bertugas sebagai petugas polisi lalu lintas. Sebab sebagai polisi lalu lintas, setiap hari ia selalu berhadapan dengan berbagai karakter masyarakat. Pernah, kata dia, ada pengendara sepeda motor yang secara terang terangan berhenti dihadapannya saat tengah mengatur arus lalu lintas. Tak tahu darimana datangnya, tiba-tiba seorang pengendara sepeda motor menghampirinya dan minta ditilang. "Dia berhenti di depan saya, dan bilang, bu Polwan ini saya nggak bawa STNK, kalau mau ditilang silahkan," tuturnya, menirukan ucapan pengendara pria tersebut.

Sebagai wanita, tentu ia sempat merasa kesal dan terdorong untuk melampiaskan kekesalannya atas tindakan iseng pengendara itu. Akan tetapi, ia teringat hal itu sudah menjadi risiko pekerjaan selaku Polwan muda. Hingga akhirnya masalah itu dapat diatasinya dengan sabar. "Mau marah juga gimana da itu risiko pekerjaan. Mungkin karena saya polwan masih muda jadi dia berani iseng. Orang banyak yang hindari tilang, ini malah pengen ditilang, aneh," katanya.

Sebaliknya, ada juga hal yang membuatnya emosi saat bertugas adalah ketika pengendara yang sudah jelas melanggar aturan tapi ngotot tidak mengakuinya. Saat itu, ia melakukan operasi kendaraan dan mendapati seorang pengendara yang menolak ketika hendak diperiksa kelengkapan surat-suratnya. "Mau diperiksa, disuruh turun dari motor nggak mau. Malah dia nya bilang, ibu kan perempuan, harusnya lebih peka dan punya perasaan, saya buru-buru mau antar anak sekolah. Langsung saja saya hukum push up karena susah diatur," ujar gadis kelahiran Sragen, 21 Februari 1996 ini.

Anak pasangan Sunarno dan Karni ini, memang sosok Polwan yang bersahaja dan supel serta rupawan. Jadi wajar selama bertugas ia kerap jadi incaran pria - pria iseng yang hanya mungkin ingin melihat ataupun mengenalnya lebih dekat. Terlebih, statusnya yang masih lajang. “Hadapi saja dengan penuh kesabaran dan sesuai prosedur. Kasih penjelasan dengan sopan insyallah mereka pada mengertidan segan,”paparnya, sekaligus menutup pembicaraan. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 01:48

Hamili Ponakan Paman Diciduk Polisi

Illustrasi
UHAN HA alias Ajo (28), warga Kampung Lengo, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, diciduk tim buser unit PPA Satreskrim Polres Karawang di tempat kediaman pelaku, Senin (31/8). Lelaki ini diduga mencabuli keponakan istrinya sendiri bernama Sarah (16) dan kini telah melahirkan seorang anak.

Uhan ditangkap berdasarkan laporan orangtua korban ke Unit PPA Polres Karawang No LP/116/X2013/jbr/Res.Krw tertanggal 29 Oktober 2013. Sejumlah saksi telah diperiksa polisi untuk memperkuat keterangan orangtua korban tersebut. Kanit PPA Satreskrim Polres Karawang Aiptu Asep Dhany K, Selasa (1/9) mengatakan, peristiwa persetubuhan terjadi dua kali yakni  di kediaman korban di Kampung Lengo, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat dan di sebuah rumah kontrakan korbandi Cidomba, Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur, pada hari Senin 14 oktober 2013 sekitar pukul 23.00 WIB.

Asep menambahkan, keduanya memang pacaran secara diam-diam. “Dari keterangan pelaku, memang pada dasarnya pelaku dengan korban itu pacaran secara diam-diam, begitu juga korban mengatakan hal yang sama. Tapi, dari keterangan yang didapat lebih jelas dari korban, saat melakukan persetubuhan saat itu pelaku memaksa korban dengan iming-iming mau dinikahi pelaku, walaupun secara jelas pelaku merupakan suami dari bibi korban sendiri,” ungkapnya.

Meskipun keduanya menyatakan perbuatannya itu didasarkan suka sama suka, namun menurut Asep hal itu tidak disukai orangtua korban sehingga melaporkannya ke polisi.

Uhan sendiri ketika dimintai komentarnya atas laporan tersebut menyebutkan bahwa istrinya sudah mengetahui ia pacaran dengan korban Melati. Bahkan istrinya pun telah mengetahui bahwa Melati hamil akibat perbuatannya  dan kemudian membawa korban untuk ditempatkan di sebuah rumah kontrakan di wilayah Dusun Cidomba, Desa Pinayungan Kecamatan Telukjambe Timur. “Saya sudah jujur kepada isteri saya dan istri saya juga mengetahui bahwa saya ada hubungan sama keponakannya. Walaupun, sebelumnya korban sempat saya bawa dan saya suruh tinggal dirumah kontrakan,” jelasnya.

Polisi menjerat Uhan dengan pasal 81-82 UU RI No. 23 Tahun 2001 tentang perlindungan anak,  dengan ancaman hukuman penjara selama 15 tahu, paling singkat 5 tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 01:46

Izin Pendirian 19 RS Segera Diperbaiki

Pemerintah Kabupaten Karawang akan memperbaiki izin pendirian 19 rumah sakit yang diduga bermasalah karena surat izinnya bukan ditandatangani oleh pejabat berwenang. Kop surat izin yang sebelumnya berlogo Dinas Kesehatan Karawang akan diganti dengan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) setempat.

Hal itu diungkapkan Kadinkes Yuska Yasin, belum lama ini. "Nanti akan segera dilakukan perbaikan perizinan 19 rumah sakit itu, agar perizinannya sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan," katanya.

Di antara perbaikan tersebut, lanjut dia, surat izinnya akan dikeluarkan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) setempat. Dengan begitu, kop surat izin yang sebelumnya berlogo Dinas Kesehatan Karawang dan ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan akan diganti. "Surat izinnya akan diganti, kop pada surat izin itu nantinya berlogo BPMPT dan ditangani Kepala BPMPT. Sedangkan sebelumnya surat izin pendirian rumah sakit itu berlogo Dinas Kesehatan dan ditandatangani Kepala Dinas Kesehatan," kata dia.

Ia mengakui sebelumnya pernah menandatangani izin pendirian rumah sakit, karena mendapatkan wewenang dari bupati melalui peraturan bupati. Tetapi penandatangan itu dilakukan sebelum BPMPT terbentuk. Menurut dia, BPMPT Karawang itu sendiri terbentuk sekitar tahun 2012. Tetapi setelah BPMPT terbentuk, tidak otomatis izin pendirian dan operasional diambil alih BPMPT setempat. Sebab, ada masa transisi selama peralihan perizinan itu. Baru mulai tahun 2015 ini, izin pendirian rumah sakit tidak lagi menjadi wewenang Dinas Kesehatan. Tetapi dialihkan ke BPMPT Karawang. Sedangkan izin rumah sakit yang sudah dikeluarkan akan diperbaiki.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Karawang, Asep Hidayat Lukman, mengakui selama menjabat selalu menandatangani izin pendirian rumah sakit, termasuk 19 rumah sakit yang kini diduga bermasalah perizinannya. Diakui pula dirinya sering mendapatkan uang dari pemohon yang mengajukan izin pendirian rumah sakit, setelah menandatangani izin pendirian rumah sakit. Tetapi uang yang diterima itu tidak dibatasi dan berjumlah dibawah Rp 1 juta. "Uang itu adalah uang kerohiman, untuk biaya operasional pengurusan berkas," kata Asep yang kini menjabat Dirut RSUD Karawang.

Menurut dia, Kepala Dinkes Karawang menandatangani izin pendirian rumah sakit sesuai Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit serta berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 40 Tahun 2011 tentang Pelimpahan Wewenang. Kemudian terbit Perbup Nomor 40 Tahun 2014 yang menyebutkan, perizinan rumah sakit kelas C dan D serta izin operasionalnya dilimpahkan sepenuhnya ke BPMPT. Tetapi dalam dalam Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu, disebutkan pejabat yang menandatangani ialah Kepala BPMPT, bukan Kepala Dinas Kesehatan. (*)
Posted by: Siti Badriyah
Berita News Karawang Updated at: 01:46